SYALOM

SELAMAT DATANG DI WEB BLOG INI SEMOGA ANDA MENDAPATI HAL YANG BERNILAI. SAYA SENANG BISA MENJUMPAI ANDA TUHAN MEMBERKATI

Senin, 26 Mei 2008

Renungan

KEMURTADAN PRIBADI

Ibr 3 : 12 “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya diantara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena murtad dari Allah yang hidup.”

Kemurtadan (Yun. apostasia) dipakai dua kali dalam Perjanjian Baru sebagai kata benda (Kis 21:21; 2Tes 2:3) dan didalam Ibr 3:12 dalam bentuk kata kerja (Yun. Aphistemi; dalam versi lain diterjemahkan sebagai “berbalik dari”). Istilah Yunani ini ditegaskan sebagai tindakan meninggalkan, berkhianat, memberontak, mengundurkan diri atau berbalik meninggalkan sesuatu yang dahulu diikuti.

1. Menjadi murtad berarti memutuskan hubungan keselamatan dengan Kristus atau mengundurkan diri dari persekutuan yang sangat penting dengan Dia dan iman yang sejati kepada-Nya. Dengan demikian kemurtadan pribadi hanya dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya sudah mengalami keselamatan, kelahiran baru dan pembaharuan melalui roh Kudus (Lukas 8:13; Ibr 6:4-5); kemurtadan bukan sekedar tindakan menyangkal doktrin PB oleh mereka yang belum diselamatkan didalam Jemaat. Kemurtadan mungkin meliputi dua aspek yang berbeda namun berhubungan :

a. Kemurtadan teologis, yaitu : menolak semua atau sebagian dari ajaran asli Kristus dan Para Rasul (1 Tim 4;3),

b. Kemurtadan moral, yaitu seseorang yang sebelumnya percaya kini tidak lagi tinggal di dalam Kristus dan sebagai gantinya memperbudak dirinya kepada dosa dan kebejatan lagi (Yes 29:13; mat 23: 25-28; Rom 6:15-23; 8:6-13).

2. Alkitab memberikan peringatan yang mendesak mengenai kemurtadan, dengantujuan mengingatkan kita agar waspada terhadap bahaya meninggalkan kesatuan kita dengan Kristus dan mendorong kita untuk bertekun didalam iman dan ketaatan. Maksud ilahi dari ayat-ayat peringatan ini jangan dilemahkan dengan pernyataan, “peringatan-peringatan itu bersifat sunguh-sungguh, tetapi kemungkinan terjadi kemurtadan secara actual tidak ada.” Sebaliknya, kita harus memandang peringatan-peringatan ini sebagai mengacu kepada realitas masa percobaan kita sehingga kita harus betul-betul memperhatikannya jikalau kita ingin mencapai keselamatan pada akhirnya. Beberapa ayat PB yang berisi peringatan adalah : mat 24:4-5, 11-13; Yoh 15:1-6; kis 11:21-23; 14:21-22; 1 Kor 15:1-2; Kol 1:21-23; 1Tim 4:1, 16; 6:10-12; 2Tim 4:2-5; Ibr 2:1-3; 3:6-8, 12-14; 6:4-6; Yak 5:19-20; 2 Ptr 1:8-11; I Yoh 2:23-25.

3. Contoh-contoh kemurtadan yang sesungguhnya terjadi terdapat dalam Kel 32; 2 raj 17:7-23; Mzm 106; Yes 1:2-4; Yer 2:1-9; Kis 1:25; Gal 5:4; 1 Tim 1:18-20; 2Ptr 2:1, 15, 20-22; Yud 4, 11-13.

4. Langkah-langkah orang yang menuju kepada kemurtadan adalah sebagai beikut :

a. Orang-orang percaya, melalui ketidak percayaan, tidak memperhatikan dengan sunguh-sungguh kebenaran, nasihat, peringatan, janji dan ajaran Firman Allah (Mrk 1:15; Luk 8:13; Yoh 5:44, 47; 8:46).

b. Ketika kenyataan-kenyataan dunia ini menjadi semakin nyata dibandingkan dengan kenyataan-kenyataan Kerajaan Allah yang sorgawi, orang-orang percaya secara berangsur-angsur berhenti menghampiri Allah melalui Kristus (Ibr 4:16; 7:19, 25; 11:6).

c. Melalui kelicikan dosa, orang percaya itu makin toleran terhadap dosa dalam kehidupan mereka sendiri (1 Kor 6:9-10; Ef 5:5; Ibr 3:13). Mereka tidak lagi mengasihi keadilan atau membenci kefasikan (Ibr 1:9)

d. Karena kedegilan hati (Ibr 3:8, 13) serta menolak jalan Allah (3:10), orang-orang percaya in iberkali-kali mengabaikan suara dan teguran Roh Kudus (Ef 4:30; 1 Tes 5:19-22).

e. Roh Kudus didukakan (Ef 4:30; Ibr 3:7-8) dan api-Nya dipadamkan (1 Tes 5:19), bait-Nya dirusak (1Kor 3:16). Karena itu akhirnya Ia meninggalkan orang yang dahulu percaya (Hak 16:20; Mzm 51:13; Rm 8:13; 1 Kor 3:16-17; Ibr 3:14).

5. Jikalau kemurtadan berjalan terus tanpa dikendalikan, orang-orang percaya itu mungkin akhirnya mencapai titik dimana mereka tidak mendapat kesempatan lagi untu kembali kepada Tuhan.

a. Mereka yang pernah mengalami keselamatan namun kemudian dengan sengaja terus-menerus mengeraskan hati terhadap suara Roh (Ibr 3:7-19), terus berbuat dosa dengan sengaja (Ibr 10:26), serta menolak untuk bertobat dan kembali lagi sehingga tidak mungkin bertobat dan menerima keselamatan lagi (Ibr 6:4-6; Ul 29:18-21; 1Sam 2:25; Ams 29:1). Kesabaran Allah ada batasnya (1Sam3:11-14; Mat 12:31-32; 2Tes 2:9-11; Ibr 10:26-29, 31; 1Yoh 5;16).

b. Titik dimana orang tidak bisa bertobat lagi ini tidak dapat ditentukn sebelumnya. Oleh karena itu, satu-satunya pengaman untuk tidak terjerumus kedalam kemurtadan akhir ditemukan dalam nasihat, “pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu” (Ibr 3:7-8, 15; 4:7).

6. Haruslah ditekankan bahwa sekalipun kemurtadan merupakan bahaya bagi semua orang percaya yang mulai hanyut dari iman )ibr 2:1-3) dan undur dari Allah (6:6), perbuatan itu tidak akan manjadi lengkap jikalau orang yang bersangkutan tidak dengan sengaja dan terus menerus berbuat dosa terhadap suara Roh Kudus (Mat. 12:31 mengenai dosa terhadap Roh Kudus).

7. Mereka menjauhkan diri dari Allah karena hati yang tidak percaya (Ibr 3:12) mungkin berpikir bahwa diri mereka masih Kristen namun ketidakacuhan mereka terhadap tuntutan-tuntutan Kristus dan Roh Kudus serta peringatan-peringatan Alkitab menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Karena kemungkinan penipuan diri ini ada, Paulus mendesak agar semua orang yang mengaku diri sudah diselamatkan untuk “uji … dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak dalam iman. Selidikilah dirimu” (2Kor 13:5).

8. Mereka yang sungguh-sungguh mempunyai perhatian terhadap keadaan rohani dan hati mereka ingin berbalik kepada Allah dalam pertobatan memiliki bukti yang pasti bahwa mereka tidak melakukan kemurtadan yang tidak bisa diampuni. Alkitab dengan jelas menandaskan bahwa Allah tidak ingin seorangpun binasa (2Ptr 3:9; Yes 1:18-19; 55:6-7) dan menyatakan bahwa Allah akanmenerima kembali semua orang yang pernah mengalami kasih karunia yang menyelamatkan jikalau mereka bertobat dan kembali kepada-Nya (Gal 5;4 dengan 4:19; 1 Kor 5;1-5 dengan 2 kor 2:5-11; Luk 15:11-24; Rm 11:20-23; Yak 5:19-20; Why 3:14-20; perhatikan contoh petrus, Mat 16:16; 2674-75; Yoh 21:15-22).

Sumber : Materi LPMI Perwakilan JPR.

---------------------------

PENGEMBANGAN BERARTI PEMURNIAN

Oleh Amoye Pekei, S.Sos

Emas murni tidak sekedar emas murni namun ia mencair dan mengurangi kelemahan, memperindah dan meyempurnakan asesoris.

Perubahan akan terjadi jika kita relah melepaskan untuk sementara kebiasan kita lalu mengenakan nilai baru bagi kita. Sala satu ciri adanya pengembangan diri ditandai dengan sejauhmana penerimaan kita terhadap hal yang baru.

Kedewasaan dapat di katakan kematangan dari suatu perilaku yang telah menjadi karakter. Kedewasaan adalah hasil dari prubahan yang terjadi ketika proses perubahan terebut berjalan dengan seiring waktu dari totalitas perilaku. Pengembangan, dan pertumbuhan mengikutinya dan kedewasaanpun makin nampak. Kedewasaan yang sesungguhnya adalah kedewasaan yang telah melewati masa sukar dan menghasilkan pemurnian diri. Pembaharuan, pengembangan dan pertumbuhan merupakan suatu totalitas pribadi yang menyatu dalam diri yang disebut sebagai manusia. Pengembangan dapat terlihat dari perilaku yang nampak sebagai perwujudan sifat dan karakter. Karakter terbentuk dari pengulangan perilaku. Sala satu ciri adanya pengembangan diri adalah terlihatnya perilaku yang mendukung karakter.

Analogi pengembangan yang memurnikan dapat diambil dari buah dan emas.

Buah

Sebagai anak Tuhan pengembangan diri kita diperoleh dari keterpaduan penundukan dan ketaatan kita pada kerja kuasa Roh Kudus melalui buah – buah Roh yang akan terlihat. Tetapi buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahterah, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri ( Gal.5 : 22,23). Lawannya adalah buah – buah daging. Perbuatan daging telah nyata, yaitu : percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan, sihir, perseturuan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah kedengkian, kemabukan pesta pora dan sebagainya. ( Gal.5: 19-21). Penundukan kita berarti menghormati sedangkan ketaatan berarti melakukan perintah. Jika melakuan sesuatu yang baru berarti akan bertentangan lama. Perbuatan daging lebih cenderung dan dekat dengan perasaan jika dilakukan pasti akan menyentuh sensitifitas perasaan. Perbuatan yang berkaitan dengan buah Roh akan meyinggung perasaan ia muda lunak namun cepat meledak. Perilaku yang terbentuk dari motivasi perasaan, muda berubah - ubah akhirnya melahirkan pribadi yang ambigu, selalu saja berubah dan lebih bersifat spontan. Model karakter ini seperti orang yang diombang ambingkan dengan gelombang laut. Perlu hasilkan perbuatan yang benar – benar dari hati. Perbuatan Roh sesungguhnya berasal dari Roh yang diakumulasikan dengan perilaku dengan pusatnya dari hati. Untuk itu Tuhan menyarankan agar kita tetap tinggal di dalam Dia supaya dapat berbuah banyak dan tetap, artinya menjadi karakter kita.

Memberikan buah tetap berarti tidak berubah juga mengandung pengertian memberikan manfaat bagi orang yang menikmati. Sisi rohani inilah yang dimaksudkan sebagai kedewasaan diri. Menikmati buah dan memberikan buah sebagai totalitas kita dari penundukan dan ketaatan kita kepada kerja kuasa Tuhan.

Banyak diantara kita berkata cukup pada berbuah dan kita menikmati, namun saat ini ada sesuatu yang beda yaitu bahwa tidak hanya itu tetapi berikan pengaruh bagi orang lain dengan buah yang ada padamu.

Emas

Ada sesuatu yang beda dari sifat emas ia emas tapi ia muda cair ( memberi pengaruh ) ketika mengalami masa pembentukan seiringan dengan kolaburasi dua sumber karakter yaitu perilaku dan waktu. Jika demikian wadah dimana tempat kita beradapun ada perubahan dari dampak pencairan emas tersebut. Diantaranya yang tidak baik menjadi baik, yang sala menjadi benar, yang kurang makin bertambah, yang lemah menjadi kuat, yang sakit menjadi sembuh, yang lemah dikuatkan yang jauh menjadi dekat. Dan ini semua adalah akibat penyempurnaan dari yang tidak sempurna.

Okelah kita mengakui kelemahan, tetapi ingat kelemahan bukan menjadi penghalang Tuhan bekerja dalam diri kita. Emas yang murni adalah emas yang teruji. Emas yang teruji adalah emas yang diakui. Kondisi statis kita adalah awal dari dimana pribadi kita tidak mau menerima perubahan. Lalu apa yang dimaksudkan dengan pengembangan yang harus terjadi dalam diri kita.

Pengembangan berarti pengembagan diri, membangun jaringan dengan teman dan tim kerja, mengebangkan pelayanan ke segala arah yang mempengaruhi dengan mempertahankan karakter dalam pengembangan struktur dan tata kerja dalam pelayanan kita.

Flash Back ( lihat kembali ) apa buah yang telah dihasilkan apakah tetap ?

Apakah emas itu telah terbentuk dan diterpa dengan masa sukar ?

Lalu apa pengaruhnya bagi diri, teman kerja, dan pelayanan kita ?

Awas

Jangan anggap perubahan itu tidak nampak, perubahan itu nampak dan dia bergerak. Perhatikanlah dengan seksama waktu yang terus berputar apakah penggodokan perilaku itu telah menghasilkan sesuatu yang baru yang maju atau bergerak mundur. Jangan hanyut dengan rutinitas statis kita yang tidak memberikan pengaruh apa – apa. Jangan perilaku tersebut adalah perilaku spontan dengan momentum rutinitas yang pada akhirnya hanya melahirkan monument yang bernilai kenangan. Hasilkanlah karakter prima yang bermula dari iven yang memberi pengaruh pada kegerakan yang menularkan kualitas karakter tersebut.

Hati – Hati

Hati adalah pusat kehidupan dan pusat kematian. Karena itu jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah akan terpancar kehidupan. Hati adalah tempat peperangan yang sengit antara daging dengan Roh. Kecenderungan kita akan nampak dari penundukan kita pada 2 pihak terssebut.

Hati - Hatilah Dengan Hati Karena Dari Hati Akan Memberikan Kamu Hati

Kemurnian diri adalah integritas pribadi sesungguhnya dan perubahan janganlah diartikan keluar dari kemurnian tetapi yang menyempurnakannya

Seputar Kegiatan PNPM SUgapa

SEPUTAR KEGIATAN

PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI

RENCANA STRATEGI PEMBANGUNAN KAMPUNG

DISTRIK SUGAPA

A. Gambaran Umum Distrik Sugapa

Distrik Sugapa terletak di dataran pegunungan di kabupaten Paniai. Keadaan topografi dari distrik ini dikelilingi dengan dataran pegunungan, lereng. Kampung – kampung yang berada di distrik ini berjumlah 11 kampung dengan jumlah penduduk kurang lebih 5 ribu jiwa. Penduduk asli yang mendiami Distrik Sugapa adalah suku Moni, Dani dan Nduga. Distrik ini dihiasi dengan panorama alamnya yang indah dengan bentangan gunung – gunung yang mengandung berbagai kekayaan alam yang meliputi hasil hutan dan perkebunan.

Selain potensi alam diatas, distrik inipun terdapat keragaman sosial budaya sesuai dengan suku bangsa yang tersebar daerah Sugapa dengan daya penerimaan masyarakat terhadap perubahan yang lamban. Hal ini mengakibatkan keadaan sosial ekonomi masyarakat masih secara umum tergolong dalam keadaan masyarakat yang tradisional. Sedangkan untuk tingkat pendidikan dan kesehatan masih tergolong dalam tingkatan menegah dan sebagian juga yang berada di bawa standar nasional.

Jangkauan transportasi dari ibukota kabupaten biasa menggunakan perjalanan udara dan darat. Perjalanan udara biasanya menggunakan pesawat Avia Star, AMA, Pilatus, kurang ebih 30 menit dengan harga tiket 400.000 dari Enarotali dan kadang dengan menggunakan subsidi dengan harga tiket 200.000. Sedangkan untuk perjalanan darat biasa dengan berjalan kaki selama 2 hari perjalanan. Jarak perjalanan dari ibu kota kabupaten ke Distrik kurang lebih 100 Km. Sedangkan jarak masing masing kampung ke Ibukota Distrik dapat di uraikan berdasarkan gambaran umum singkat letak kampung di distrik Sugapa. Bagian utara dari distrik Sugapa terdapat kampung Jalai yang terletak di bawa kaki gunung Soali dengan jarak tempu ke Ibukota distrik sejauh 4 Km dari kampung Jalai. Sedangkan di bagian selatan Distrik Sugapa terdapat 3 kampung yaitu Kampung Ugimba, Emondi dan Mindaw. Letak ketiga kampung ini berada di belakang gumung Bula Pigu. Dengan jarak tempu ke distrik masing –masing Ugimba 15 Km, Emondi 10 Km dan Mindaw 9 Km. perjalanan ini biasanya di jangkau dengan berjalan kaki saja. Distrik Sugapa bagian barat terdapat kampung Pugiyagia dan Bilogai. Di bagian timur dari distrik Sugapa terdapat kampung Ekenemba, Joparu, Mamba dan Titigi terletak di bawah kaki gunung Bila Pigu. Sedangkan kampung Yokatapa berada di ibu kota distrik.

Batas – batas wilayah distrik Sugapa adalah sebagai berikut

1. Bagian barat berbatasan dengan distrik Homeo

2. Bagian timur berbatasan dengan distrik Htadipa dan distrik Agisiga

3. Bagian utara berbatasab dengan kabupaten Waropen

4. Bagian Selatan berbatasan dengan kabupaten Timika.

B. Gambaran Umum Kegiatan Pendamping Distrik Program PNPM

Kegiatan program PNPM yang dilakukan bulan ini telah realisasi. Kegiatan tersebut adalah

1. Kegiatan pendataan awal. Dari 11 kampung hanya sembilan kampung yang terealisasi kecuali kampung Joparu dan Ugimba. Kedua kampung tidak dibagikan pendataan awal karena daerah ini masih dalam keadaan perang. Kegiatan pendataan ini baru pada tahap pengisian formulir namun ada beberapa kampung yang telah selesai melakukan pendataan diantaranya kampung Mindau, Emondi dan Yogatapa.

2. Musyawarah Distrik. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2008. Dari 11 kampung yang hadir hanya 9 kampung karena 2 kampung lain masih dalan keadaan perang. Jumlah peserta yang diharapkan hadir sebanyak 54 dari tiap kampung masing – masing 6 orang peserta. Setelah kagiatan tersebut dilakukan yang menhadiri pertemuan tersebut lebih dari 54. namun yang berhasil terdaftar berjumlah 42 orang.

3. Musyawarah Kampung. 2 Kampung yang berhasil mengadakan musyawarah adalah kampung Mindau dan Emondi. Dalam pelaksanaannya ada beberapa kegiatan berjalan seperti pemilihan TPKK, PK, TV dan TPU. Sedangkan pelatihannya akan bersamaan dengan kampung lainnya setelah Musyarah kampung ditiap kampung.


C. Permasalahan Program dan Sosial

Permasalahan yang dialami oleh pendamping dalam kegiatan bulan mei adalah sebagai berikut :

  1. Belum adanya dana operasional kagiatan distrik ( DOK Distrik ), sehingga kegiatan yang seharusnya di danai oleh dana DOK terpaksa Pendamping Distrik PNPM melakukan dengan mengorbankan dana pribadi. Operasional kegiatan mulai aktif ketika program tersebut mulai terealisasi tetapi sampai saat ini program berjalan namun ada dana dok yang belum ada. Ada hal yang dikhawatirkan adalah pencairan dama BLM terlambat cair tahun 2008 dan ada kemungkinan target tercapai tapi proses terabaikan.
  2. Ada 2 kampung yang dikategorikan rawan perang. Sehingga pendamping tidak mengadakan kegiatan di 2 kampung tersebut. Kampung tersebut adalah Joparu dan Ugimba. Perang ini berlangsung dari tahun 2007 dan kemudian menyusul lagi pada tahun 2008. seluruh aktifitas di kedua kampung ini terhalang karena kondisi rawan perang. Dan pihak distrik telah memberikan ultimatum jika tidak berhenti perang, maka aktifitas pembangunan di keduakampung tersebut akan diberhentikan untuk sementara.
  3. Masyarakat menuntut dana tahap II 55 % program tahun anggaran 2007 segera dicairkan karena laporan pertanggungjawaban dana tahap I telah diserahkan ke BPMD kabupaten. Berbagai pertanyaan masyarakat karena belum jelas pencairan realisasi program 2007 akhirnya menimbulkan berbagai pertanyaan sebagai berikut :

a. Siapa fasilitator yang akan memfasilitasi dana sisah tersebut. Ataukan harus diberikan langsung oleh BPMD lagi. Karena tahun lalu BPMD langsung membawanya ke masyarakat dan membagikannya.

b. Kapan pencairan dana 55 %

c. Kenapa belum beres program 2007 baru program 2008 berjalan lagi ?