SYALOM

SELAMAT DATANG DI WEB BLOG INI SEMOGA ANDA MENDAPATI HAL YANG BERNILAI. SAYA SENANG BISA MENJUMPAI ANDA TUHAN MEMBERKATI

Senin, 08 Desember 2008

Ikatan Alumni PMK Mau Ke Mana


Alumni Mahasiswa Kristen UNCEN adalah kaum intelektual kristen dan mempunyai tanggung jawab pengabdian kepada masyarakat karena telah melakukan pendidikan, penelitian dan pengabdian di kampus yang akan dipakai untuk membangun masyarakat. Selain itu sebagai anggota gereja kita dituntut untuk melaksanaan tri panggilan gereja yaitu bersaksi, bersekutu dan melayani sebagai wujud pengabdian pada gereja. Berdasaran pemikiran ini sebagai alumni tidak salah kalau mempunyai beban moril terhadap pelayanan dan hendaknya dilakukan dalam bentuk doa, dana dan daya untuk membeking pelayanan PMK UNCEN.

Namun dalam pelaksanaan program Ikatan alumni suda saatnya memikirkan pengembangan diri sebagai kelajutan dari visi dan misi PMK di Luar kampus yaitu di masyarakat dan gereja. Sebagai organisasi eksternal kampus dan merupakan alumni UNCEN seharusnya mempunyai visi sendiri yang jelas menjadi acuan untuk melaksanakan program yang ditentukan. Selama ini seakan – akan alumni hanya melaksanakan misi Doa, Dana dan daya (3 D ) yang didasari dengan visi PMK UNCEN.

Sasaran pelayanan ikatan alumni untuk mewujudkan pelayanan prima, oleh organisasi hendaknya melayani pelanggan internal dan eksternal. Pelanggan internal adalah staf pengurus dan anggota organisasi. Sedangkan sebagai pelanggan eksternal adalah mereka yang berada di luar organisasi tersebut yang menerima pelayanan dalam hal ini adalah anggota PMK dan masyarakat sebagai perwujudan tri panggilan gereja dan tridharma perguruan tinggi. Jika dilihat secara pintas maka bentuk pelayanan yang sedang dilakukan dalam bentuk 3 D oleh ikatan alumni adalah membeking pelayanan PMK tanpa melihat pengembangan ilmu dan pengabdiannya pada masyarakat. Seakan – akan sasaran pelayanan ikatan alumni yang tampak adalah mahasiswa UNCEN.

Hal ini mengakibatkan pelayanan internal dan pelayanan esternal dalam pengabdian kepada masyarakat tidak berjalan sebaiknya. Selain itu juga pengurus mempunyai visi yang jelas dan hendak kemana organisasi ini dan apa yang diinginkan kelajutan organisasi ini. Jika sebelumnya hanya melihat keadaan masa lalu kita di PMK UNCEN mungkin kini saatnya kita melihat masa depan kita apa yang akan kita buat untuk mencapai pengihatan kita tentang hari esok. Bersamaan dengan hal ini sekaligus mengajak adik - adik menatap masa depan mereka untuk mengikuti jejak yang telah dirintis. Bukan kita menatap masa lalu kita.

Berdasarkan latar belakang ini maka suda saatnya kita bersama – sama memikirkan kerangka logis program yang terbaik sebagai acuan pegangan yang jelas dan dapat di mengerti oleh pelanggan internal dan eksternal.

Senin, 18 Agustus 2008

Pelayanan Kampus

Tahukah anda tentang Keunikan Pelayanan Kampus

Mungkin anggapan sepele dengan pelayan pengembangan diri pelayanan di kampus. Hal ini disebabkan karena ada pandangan yang dipentingkan adalah mengejar prestasi yang gemilang. tidak sala jika anggapan itu ada. tapi ada hal penting di balik pelayanan pengembangan diri mahasiswa di kampus yaitu pembentukan pribadi manusia yang lebih penting dari sekedar kecerdasan intelegensi.
Menurut informasi bahwa kemampuan para cendekiawan yang pintar dan berhasil memanfaatkan kemampuannya yang dipakai adalah 10 % dan 90 % masih tersimpan yang menjadi potensi dalam diri yang perlu digarap. Pengembangan diri yang perlu diperhatikan dari bagian pengembangan diri mahasiswa adalah kegiatan mahasiswa yang berorientasi pada penningkatan Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Emosional. Mungkin bagian yang tersimpan dalam diri ini lah yang dimaksud dengan 90 % yang harus di gali.
Sala satu pelayanan kampus yang pernah saya tahu untuk pengembangan itu adalah unit kegiatan mahasiswa. sala satu di UNCEN adalah PMK. pelayanannya unik.
1. Interdenominasi. Oikumene dari tiap gereja.
2. Mengalir. pengkaderan dalam multiplikasi
3. Strategis. mahasiswa hari ini adalah pemimpin hari esok.

Senin, 26 Mei 2008

Renungan

KEMURTADAN PRIBADI

Ibr 3 : 12 “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya diantara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena murtad dari Allah yang hidup.”

Kemurtadan (Yun. apostasia) dipakai dua kali dalam Perjanjian Baru sebagai kata benda (Kis 21:21; 2Tes 2:3) dan didalam Ibr 3:12 dalam bentuk kata kerja (Yun. Aphistemi; dalam versi lain diterjemahkan sebagai “berbalik dari”). Istilah Yunani ini ditegaskan sebagai tindakan meninggalkan, berkhianat, memberontak, mengundurkan diri atau berbalik meninggalkan sesuatu yang dahulu diikuti.

1. Menjadi murtad berarti memutuskan hubungan keselamatan dengan Kristus atau mengundurkan diri dari persekutuan yang sangat penting dengan Dia dan iman yang sejati kepada-Nya. Dengan demikian kemurtadan pribadi hanya dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya sudah mengalami keselamatan, kelahiran baru dan pembaharuan melalui roh Kudus (Lukas 8:13; Ibr 6:4-5); kemurtadan bukan sekedar tindakan menyangkal doktrin PB oleh mereka yang belum diselamatkan didalam Jemaat. Kemurtadan mungkin meliputi dua aspek yang berbeda namun berhubungan :

a. Kemurtadan teologis, yaitu : menolak semua atau sebagian dari ajaran asli Kristus dan Para Rasul (1 Tim 4;3),

b. Kemurtadan moral, yaitu seseorang yang sebelumnya percaya kini tidak lagi tinggal di dalam Kristus dan sebagai gantinya memperbudak dirinya kepada dosa dan kebejatan lagi (Yes 29:13; mat 23: 25-28; Rom 6:15-23; 8:6-13).

2. Alkitab memberikan peringatan yang mendesak mengenai kemurtadan, dengantujuan mengingatkan kita agar waspada terhadap bahaya meninggalkan kesatuan kita dengan Kristus dan mendorong kita untuk bertekun didalam iman dan ketaatan. Maksud ilahi dari ayat-ayat peringatan ini jangan dilemahkan dengan pernyataan, “peringatan-peringatan itu bersifat sunguh-sungguh, tetapi kemungkinan terjadi kemurtadan secara actual tidak ada.” Sebaliknya, kita harus memandang peringatan-peringatan ini sebagai mengacu kepada realitas masa percobaan kita sehingga kita harus betul-betul memperhatikannya jikalau kita ingin mencapai keselamatan pada akhirnya. Beberapa ayat PB yang berisi peringatan adalah : mat 24:4-5, 11-13; Yoh 15:1-6; kis 11:21-23; 14:21-22; 1 Kor 15:1-2; Kol 1:21-23; 1Tim 4:1, 16; 6:10-12; 2Tim 4:2-5; Ibr 2:1-3; 3:6-8, 12-14; 6:4-6; Yak 5:19-20; 2 Ptr 1:8-11; I Yoh 2:23-25.

3. Contoh-contoh kemurtadan yang sesungguhnya terjadi terdapat dalam Kel 32; 2 raj 17:7-23; Mzm 106; Yes 1:2-4; Yer 2:1-9; Kis 1:25; Gal 5:4; 1 Tim 1:18-20; 2Ptr 2:1, 15, 20-22; Yud 4, 11-13.

4. Langkah-langkah orang yang menuju kepada kemurtadan adalah sebagai beikut :

a. Orang-orang percaya, melalui ketidak percayaan, tidak memperhatikan dengan sunguh-sungguh kebenaran, nasihat, peringatan, janji dan ajaran Firman Allah (Mrk 1:15; Luk 8:13; Yoh 5:44, 47; 8:46).

b. Ketika kenyataan-kenyataan dunia ini menjadi semakin nyata dibandingkan dengan kenyataan-kenyataan Kerajaan Allah yang sorgawi, orang-orang percaya secara berangsur-angsur berhenti menghampiri Allah melalui Kristus (Ibr 4:16; 7:19, 25; 11:6).

c. Melalui kelicikan dosa, orang percaya itu makin toleran terhadap dosa dalam kehidupan mereka sendiri (1 Kor 6:9-10; Ef 5:5; Ibr 3:13). Mereka tidak lagi mengasihi keadilan atau membenci kefasikan (Ibr 1:9)

d. Karena kedegilan hati (Ibr 3:8, 13) serta menolak jalan Allah (3:10), orang-orang percaya in iberkali-kali mengabaikan suara dan teguran Roh Kudus (Ef 4:30; 1 Tes 5:19-22).

e. Roh Kudus didukakan (Ef 4:30; Ibr 3:7-8) dan api-Nya dipadamkan (1 Tes 5:19), bait-Nya dirusak (1Kor 3:16). Karena itu akhirnya Ia meninggalkan orang yang dahulu percaya (Hak 16:20; Mzm 51:13; Rm 8:13; 1 Kor 3:16-17; Ibr 3:14).

5. Jikalau kemurtadan berjalan terus tanpa dikendalikan, orang-orang percaya itu mungkin akhirnya mencapai titik dimana mereka tidak mendapat kesempatan lagi untu kembali kepada Tuhan.

a. Mereka yang pernah mengalami keselamatan namun kemudian dengan sengaja terus-menerus mengeraskan hati terhadap suara Roh (Ibr 3:7-19), terus berbuat dosa dengan sengaja (Ibr 10:26), serta menolak untuk bertobat dan kembali lagi sehingga tidak mungkin bertobat dan menerima keselamatan lagi (Ibr 6:4-6; Ul 29:18-21; 1Sam 2:25; Ams 29:1). Kesabaran Allah ada batasnya (1Sam3:11-14; Mat 12:31-32; 2Tes 2:9-11; Ibr 10:26-29, 31; 1Yoh 5;16).

b. Titik dimana orang tidak bisa bertobat lagi ini tidak dapat ditentukn sebelumnya. Oleh karena itu, satu-satunya pengaman untuk tidak terjerumus kedalam kemurtadan akhir ditemukan dalam nasihat, “pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu” (Ibr 3:7-8, 15; 4:7).

6. Haruslah ditekankan bahwa sekalipun kemurtadan merupakan bahaya bagi semua orang percaya yang mulai hanyut dari iman )ibr 2:1-3) dan undur dari Allah (6:6), perbuatan itu tidak akan manjadi lengkap jikalau orang yang bersangkutan tidak dengan sengaja dan terus menerus berbuat dosa terhadap suara Roh Kudus (Mat. 12:31 mengenai dosa terhadap Roh Kudus).

7. Mereka menjauhkan diri dari Allah karena hati yang tidak percaya (Ibr 3:12) mungkin berpikir bahwa diri mereka masih Kristen namun ketidakacuhan mereka terhadap tuntutan-tuntutan Kristus dan Roh Kudus serta peringatan-peringatan Alkitab menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Karena kemungkinan penipuan diri ini ada, Paulus mendesak agar semua orang yang mengaku diri sudah diselamatkan untuk “uji … dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak dalam iman. Selidikilah dirimu” (2Kor 13:5).

8. Mereka yang sungguh-sungguh mempunyai perhatian terhadap keadaan rohani dan hati mereka ingin berbalik kepada Allah dalam pertobatan memiliki bukti yang pasti bahwa mereka tidak melakukan kemurtadan yang tidak bisa diampuni. Alkitab dengan jelas menandaskan bahwa Allah tidak ingin seorangpun binasa (2Ptr 3:9; Yes 1:18-19; 55:6-7) dan menyatakan bahwa Allah akanmenerima kembali semua orang yang pernah mengalami kasih karunia yang menyelamatkan jikalau mereka bertobat dan kembali kepada-Nya (Gal 5;4 dengan 4:19; 1 Kor 5;1-5 dengan 2 kor 2:5-11; Luk 15:11-24; Rm 11:20-23; Yak 5:19-20; Why 3:14-20; perhatikan contoh petrus, Mat 16:16; 2674-75; Yoh 21:15-22).

Sumber : Materi LPMI Perwakilan JPR.

---------------------------

PENGEMBANGAN BERARTI PEMURNIAN

Oleh Amoye Pekei, S.Sos

Emas murni tidak sekedar emas murni namun ia mencair dan mengurangi kelemahan, memperindah dan meyempurnakan asesoris.

Perubahan akan terjadi jika kita relah melepaskan untuk sementara kebiasan kita lalu mengenakan nilai baru bagi kita. Sala satu ciri adanya pengembangan diri ditandai dengan sejauhmana penerimaan kita terhadap hal yang baru.

Kedewasaan dapat di katakan kematangan dari suatu perilaku yang telah menjadi karakter. Kedewasaan adalah hasil dari prubahan yang terjadi ketika proses perubahan terebut berjalan dengan seiring waktu dari totalitas perilaku. Pengembangan, dan pertumbuhan mengikutinya dan kedewasaanpun makin nampak. Kedewasaan yang sesungguhnya adalah kedewasaan yang telah melewati masa sukar dan menghasilkan pemurnian diri. Pembaharuan, pengembangan dan pertumbuhan merupakan suatu totalitas pribadi yang menyatu dalam diri yang disebut sebagai manusia. Pengembangan dapat terlihat dari perilaku yang nampak sebagai perwujudan sifat dan karakter. Karakter terbentuk dari pengulangan perilaku. Sala satu ciri adanya pengembangan diri adalah terlihatnya perilaku yang mendukung karakter.

Analogi pengembangan yang memurnikan dapat diambil dari buah dan emas.

Buah

Sebagai anak Tuhan pengembangan diri kita diperoleh dari keterpaduan penundukan dan ketaatan kita pada kerja kuasa Roh Kudus melalui buah – buah Roh yang akan terlihat. Tetapi buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahterah, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri ( Gal.5 : 22,23). Lawannya adalah buah – buah daging. Perbuatan daging telah nyata, yaitu : percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan, sihir, perseturuan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah kedengkian, kemabukan pesta pora dan sebagainya. ( Gal.5: 19-21). Penundukan kita berarti menghormati sedangkan ketaatan berarti melakukan perintah. Jika melakuan sesuatu yang baru berarti akan bertentangan lama. Perbuatan daging lebih cenderung dan dekat dengan perasaan jika dilakukan pasti akan menyentuh sensitifitas perasaan. Perbuatan yang berkaitan dengan buah Roh akan meyinggung perasaan ia muda lunak namun cepat meledak. Perilaku yang terbentuk dari motivasi perasaan, muda berubah - ubah akhirnya melahirkan pribadi yang ambigu, selalu saja berubah dan lebih bersifat spontan. Model karakter ini seperti orang yang diombang ambingkan dengan gelombang laut. Perlu hasilkan perbuatan yang benar – benar dari hati. Perbuatan Roh sesungguhnya berasal dari Roh yang diakumulasikan dengan perilaku dengan pusatnya dari hati. Untuk itu Tuhan menyarankan agar kita tetap tinggal di dalam Dia supaya dapat berbuah banyak dan tetap, artinya menjadi karakter kita.

Memberikan buah tetap berarti tidak berubah juga mengandung pengertian memberikan manfaat bagi orang yang menikmati. Sisi rohani inilah yang dimaksudkan sebagai kedewasaan diri. Menikmati buah dan memberikan buah sebagai totalitas kita dari penundukan dan ketaatan kita kepada kerja kuasa Tuhan.

Banyak diantara kita berkata cukup pada berbuah dan kita menikmati, namun saat ini ada sesuatu yang beda yaitu bahwa tidak hanya itu tetapi berikan pengaruh bagi orang lain dengan buah yang ada padamu.

Emas

Ada sesuatu yang beda dari sifat emas ia emas tapi ia muda cair ( memberi pengaruh ) ketika mengalami masa pembentukan seiringan dengan kolaburasi dua sumber karakter yaitu perilaku dan waktu. Jika demikian wadah dimana tempat kita beradapun ada perubahan dari dampak pencairan emas tersebut. Diantaranya yang tidak baik menjadi baik, yang sala menjadi benar, yang kurang makin bertambah, yang lemah menjadi kuat, yang sakit menjadi sembuh, yang lemah dikuatkan yang jauh menjadi dekat. Dan ini semua adalah akibat penyempurnaan dari yang tidak sempurna.

Okelah kita mengakui kelemahan, tetapi ingat kelemahan bukan menjadi penghalang Tuhan bekerja dalam diri kita. Emas yang murni adalah emas yang teruji. Emas yang teruji adalah emas yang diakui. Kondisi statis kita adalah awal dari dimana pribadi kita tidak mau menerima perubahan. Lalu apa yang dimaksudkan dengan pengembangan yang harus terjadi dalam diri kita.

Pengembangan berarti pengembagan diri, membangun jaringan dengan teman dan tim kerja, mengebangkan pelayanan ke segala arah yang mempengaruhi dengan mempertahankan karakter dalam pengembangan struktur dan tata kerja dalam pelayanan kita.

Flash Back ( lihat kembali ) apa buah yang telah dihasilkan apakah tetap ?

Apakah emas itu telah terbentuk dan diterpa dengan masa sukar ?

Lalu apa pengaruhnya bagi diri, teman kerja, dan pelayanan kita ?

Awas

Jangan anggap perubahan itu tidak nampak, perubahan itu nampak dan dia bergerak. Perhatikanlah dengan seksama waktu yang terus berputar apakah penggodokan perilaku itu telah menghasilkan sesuatu yang baru yang maju atau bergerak mundur. Jangan hanyut dengan rutinitas statis kita yang tidak memberikan pengaruh apa – apa. Jangan perilaku tersebut adalah perilaku spontan dengan momentum rutinitas yang pada akhirnya hanya melahirkan monument yang bernilai kenangan. Hasilkanlah karakter prima yang bermula dari iven yang memberi pengaruh pada kegerakan yang menularkan kualitas karakter tersebut.

Hati – Hati

Hati adalah pusat kehidupan dan pusat kematian. Karena itu jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah akan terpancar kehidupan. Hati adalah tempat peperangan yang sengit antara daging dengan Roh. Kecenderungan kita akan nampak dari penundukan kita pada 2 pihak terssebut.

Hati - Hatilah Dengan Hati Karena Dari Hati Akan Memberikan Kamu Hati

Kemurnian diri adalah integritas pribadi sesungguhnya dan perubahan janganlah diartikan keluar dari kemurnian tetapi yang menyempurnakannya

Seputar Kegiatan PNPM SUgapa

SEPUTAR KEGIATAN

PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI

RENCANA STRATEGI PEMBANGUNAN KAMPUNG

DISTRIK SUGAPA

A. Gambaran Umum Distrik Sugapa

Distrik Sugapa terletak di dataran pegunungan di kabupaten Paniai. Keadaan topografi dari distrik ini dikelilingi dengan dataran pegunungan, lereng. Kampung – kampung yang berada di distrik ini berjumlah 11 kampung dengan jumlah penduduk kurang lebih 5 ribu jiwa. Penduduk asli yang mendiami Distrik Sugapa adalah suku Moni, Dani dan Nduga. Distrik ini dihiasi dengan panorama alamnya yang indah dengan bentangan gunung – gunung yang mengandung berbagai kekayaan alam yang meliputi hasil hutan dan perkebunan.

Selain potensi alam diatas, distrik inipun terdapat keragaman sosial budaya sesuai dengan suku bangsa yang tersebar daerah Sugapa dengan daya penerimaan masyarakat terhadap perubahan yang lamban. Hal ini mengakibatkan keadaan sosial ekonomi masyarakat masih secara umum tergolong dalam keadaan masyarakat yang tradisional. Sedangkan untuk tingkat pendidikan dan kesehatan masih tergolong dalam tingkatan menegah dan sebagian juga yang berada di bawa standar nasional.

Jangkauan transportasi dari ibukota kabupaten biasa menggunakan perjalanan udara dan darat. Perjalanan udara biasanya menggunakan pesawat Avia Star, AMA, Pilatus, kurang ebih 30 menit dengan harga tiket 400.000 dari Enarotali dan kadang dengan menggunakan subsidi dengan harga tiket 200.000. Sedangkan untuk perjalanan darat biasa dengan berjalan kaki selama 2 hari perjalanan. Jarak perjalanan dari ibu kota kabupaten ke Distrik kurang lebih 100 Km. Sedangkan jarak masing masing kampung ke Ibukota Distrik dapat di uraikan berdasarkan gambaran umum singkat letak kampung di distrik Sugapa. Bagian utara dari distrik Sugapa terdapat kampung Jalai yang terletak di bawa kaki gunung Soali dengan jarak tempu ke Ibukota distrik sejauh 4 Km dari kampung Jalai. Sedangkan di bagian selatan Distrik Sugapa terdapat 3 kampung yaitu Kampung Ugimba, Emondi dan Mindaw. Letak ketiga kampung ini berada di belakang gumung Bula Pigu. Dengan jarak tempu ke distrik masing –masing Ugimba 15 Km, Emondi 10 Km dan Mindaw 9 Km. perjalanan ini biasanya di jangkau dengan berjalan kaki saja. Distrik Sugapa bagian barat terdapat kampung Pugiyagia dan Bilogai. Di bagian timur dari distrik Sugapa terdapat kampung Ekenemba, Joparu, Mamba dan Titigi terletak di bawah kaki gunung Bila Pigu. Sedangkan kampung Yokatapa berada di ibu kota distrik.

Batas – batas wilayah distrik Sugapa adalah sebagai berikut

1. Bagian barat berbatasan dengan distrik Homeo

2. Bagian timur berbatasan dengan distrik Htadipa dan distrik Agisiga

3. Bagian utara berbatasab dengan kabupaten Waropen

4. Bagian Selatan berbatasan dengan kabupaten Timika.

B. Gambaran Umum Kegiatan Pendamping Distrik Program PNPM

Kegiatan program PNPM yang dilakukan bulan ini telah realisasi. Kegiatan tersebut adalah

1. Kegiatan pendataan awal. Dari 11 kampung hanya sembilan kampung yang terealisasi kecuali kampung Joparu dan Ugimba. Kedua kampung tidak dibagikan pendataan awal karena daerah ini masih dalam keadaan perang. Kegiatan pendataan ini baru pada tahap pengisian formulir namun ada beberapa kampung yang telah selesai melakukan pendataan diantaranya kampung Mindau, Emondi dan Yogatapa.

2. Musyawarah Distrik. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2008. Dari 11 kampung yang hadir hanya 9 kampung karena 2 kampung lain masih dalan keadaan perang. Jumlah peserta yang diharapkan hadir sebanyak 54 dari tiap kampung masing – masing 6 orang peserta. Setelah kagiatan tersebut dilakukan yang menhadiri pertemuan tersebut lebih dari 54. namun yang berhasil terdaftar berjumlah 42 orang.

3. Musyawarah Kampung. 2 Kampung yang berhasil mengadakan musyawarah adalah kampung Mindau dan Emondi. Dalam pelaksanaannya ada beberapa kegiatan berjalan seperti pemilihan TPKK, PK, TV dan TPU. Sedangkan pelatihannya akan bersamaan dengan kampung lainnya setelah Musyarah kampung ditiap kampung.


C. Permasalahan Program dan Sosial

Permasalahan yang dialami oleh pendamping dalam kegiatan bulan mei adalah sebagai berikut :

  1. Belum adanya dana operasional kagiatan distrik ( DOK Distrik ), sehingga kegiatan yang seharusnya di danai oleh dana DOK terpaksa Pendamping Distrik PNPM melakukan dengan mengorbankan dana pribadi. Operasional kegiatan mulai aktif ketika program tersebut mulai terealisasi tetapi sampai saat ini program berjalan namun ada dana dok yang belum ada. Ada hal yang dikhawatirkan adalah pencairan dama BLM terlambat cair tahun 2008 dan ada kemungkinan target tercapai tapi proses terabaikan.
  2. Ada 2 kampung yang dikategorikan rawan perang. Sehingga pendamping tidak mengadakan kegiatan di 2 kampung tersebut. Kampung tersebut adalah Joparu dan Ugimba. Perang ini berlangsung dari tahun 2007 dan kemudian menyusul lagi pada tahun 2008. seluruh aktifitas di kedua kampung ini terhalang karena kondisi rawan perang. Dan pihak distrik telah memberikan ultimatum jika tidak berhenti perang, maka aktifitas pembangunan di keduakampung tersebut akan diberhentikan untuk sementara.
  3. Masyarakat menuntut dana tahap II 55 % program tahun anggaran 2007 segera dicairkan karena laporan pertanggungjawaban dana tahap I telah diserahkan ke BPMD kabupaten. Berbagai pertanyaan masyarakat karena belum jelas pencairan realisasi program 2007 akhirnya menimbulkan berbagai pertanyaan sebagai berikut :

a. Siapa fasilitator yang akan memfasilitasi dana sisah tersebut. Ataukan harus diberikan langsung oleh BPMD lagi. Karena tahun lalu BPMD langsung membawanya ke masyarakat dan membagikannya.

b. Kapan pencairan dana 55 %

c. Kenapa belum beres program 2007 baru program 2008 berjalan lagi ?


Sabtu, 10 Mei 2008

Pemberdayaan Masyarakat

Masalah Sosial HIV-AIDS di Antara Masyarakat


Masalah besar tersembunyi dalam yang terbesar dan terbanyak, mereka ini adalah masyarakat yang tak terjangkau oleh informasi. Mereka berjumlah banyak tetapi tidak mendapat bagian terbanyak dari hak kereka. Kebanyakan mereka yang meliputi potensi. Hal itu hanya menjadi potensi yang terpendam dan menjadi sasaran masalah sosial.karena karena yang terbanyak danterkuat bagi mereka tidak dipakai dan yang terbanyak dari hak mereka tidak diperoleh karena tidak diberikan. Belum ada data yangtepat tentang demografi masyarakat Papua yang memasyarakat. Dan ada kemungkinan kebanyakan dari mereka tidak termasuk dalam demografi itu. Bagian mereka hanyalah yang tersisihkan. ternytata adalah kematian yang diakibatkan oleh karena tidak termasuk dalam demografi dan pola hidup mereka yang tidak temasuk dalam perhitungan pemanfaatan demografi itu.

Usaha untuk mengurangi gejala umum masyarakat yang tertinggal karena akibat ketinggalan informasi untuk membangkitkan kekuatan mereka diantaranya

  1. Perlu adanya kajian khusus

Untuk mendapat data yang tidak terjangkau oleh pemerintah baik itu yang berada di kampung – kampung yang belum diketahui ODA. Kegiatan yang bisa dilakukan mencari tahu penyebab kematian karena kesehatan masyarakat. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh pimpinan – pimpinan atau gembala-gembala di tiap gereja dan melaporkan itu kepada pihak yang bertanggung jawab ( instansi terkait). Manfaat dari kegiatan ini akan membantu dalam memutuskan rantai penyakit dan mengurangi dampak dari penyakit tersebut di masyarakat. Data lapangan menajdi kekuatan untuk berpikir, berbicara dan bertindak.

  1. Perlu memberikan informasi passti HIV- AIDS.

Tentang Kematian ODA agar tidak tibul konflik akibat simpang siur informasi akibat kematian orang tersebut. Hal ini bisa disosialisasi melalui gereja – gereja yang berada di daerah kejadian darimereka yang terbanyak yaitu mereka yang berada di kampung- kampung. Lanjutan tahap pendataan kasus ODA dan meberikan informrasi adalah dua tahap yang berjalan secara terus menerus.


Masalah Seputar Birokrasi Pemerintah Kabupaten Paniai


“Birokarasi sering diumpamakan sebagai sebagai tembok berlin” demikian diutarakan Pdt. Dr Benny Giyai dalam pertemuan itu ketika menanggapi pernyataan beberapa orang peserta di saat pekuliaan itu. Lanjutnya kebanyakan pemimpin hanya akan berbicara untuk melindungi diri mereka. Sebagai bagian dari usaha membenarkan diri. Berbicara kebenaran didepan dan kemudian dibelakang akan menjalankan apa yang diinginkan sendiri untuk tidak mengurangi kekuasaannya untuk melakukan menurut kehendaknya sebagai pengatur segala sesuatu. Hal ini akan mempengarui menajemennya dalam meaksanakan birokrasi pemerintahnnya.

Sekalipun masyarakat tidak dilibatkan dalam pola pikirnya sebagai bahan pertimbangannya masyarakat tetap dari dulu sekarang dan akan datang mempunyai hak yang sama sebagai penyelengara pembangunan dan masyaraktlah yang menentukan dan mempengaruhi hasil pembangunan. Persetujuan dan pengakuan terhadap birokasi mempengaruhi jalannya pembangunan akan tetap ada tetapi ada yang perlu diketahui bersama bahwa masyarakatlah hakekat pembangunan. Selisi antara birokrasi dan masyarakat akan bertambah jika keadaan umum birokrasi.

1. Pemimpin daerah yang lemah

Ada sebagian pemimpin yang melindungi diri dengan berbagai – bagai penghargaan ilmiah dalam bentuk gelar – gelar yang dipakai bagaikan pakaian kebesaran. Tidak bisa disangkali ada banyak yang kasus demikian. Bagaikan perkakas kayu yang dilapisi dengan emas. Pribadi tidak bermutu hanya pakaiannya yang bermutu.

2. Adanya kelompok pagar betis dalam pemerintah.

Mungkin akan lebih tepat jika kelompok pagar betis ini disebut dengan istilah kelompok kepentingan (interest group ) dalam istana. Keinginan mereka akan berlawanan dengan kelompok lain kelompok ini akan disebut sebagai kelompok outgroup yang merasa tidak termasuk dalam kelompok lain. Kedua kelompok ini jika berjalan dengan kekuatan yang seimbang merupakan satu pemicu konflik.

3. Top Leader Berkuasa Atas Down Leader ( lemah kader birokrasi)

4. Profil anggaran yang berpihak pada masyarakat.

--------------------------------

Sumber : .

HASIL DISKUSI KULIAH UMUM KAMPUS ISSP ZAKEUS PAKAGE BERSAMA Dr BENNY GIAY 11 APRIL 2008

---------------------------------

ANTARA PARTISIPASI MASYARAKAT

DAN PEMBANGUNAN DI PAPUA

Oleh Amoye Pekei, S.Sos

Pembangunan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan untuk merubah suatu hal yang tidak baik menjadi baik. Usaha ini dilakukan dalam tahap – tahap yang terencana dan sistematis dengan tujuan agar tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Tujuan pembangunan ini seperti yang dimaksud dalam pembukaan UUD 1945 yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengutamakan hakekat pembangunan itu sendiri yaitu membangun manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya diatas azas adil dan merata.

Pembangunan yang dilakukan seutuhnya artinya membangun pribadi manusia. Sedangkan seluruhnya adalah membangun secara merata. Sentuhnya pembangunan tidak memandang batas, ruang, waktu, keterbelakangan kebudayaan dan SARA. Prinsip adil dan merata merupakan dasar dari pembangunan masyarkat seluruhnya.

Rakyat diharapkan bisa menjadi motor penggerak pembangunan, untuk itu rakyat seharusnya bisa menjadi subjek dan objek pembangunan. Rakyat menjadi subjek pembangunan dituntut agar melakukan pembangunan sebagai kewajiban yang harus dilakukan. Sedangkan objek pembangunan, rakyat menjadi pelaksana pembangunan sebagai pemberian upah dari tanggung jawabnya kemudian harus mengikuti ketentuan yang diberikan. Rakyat sebagai pelaksana pembangunan artinya rakyatlah yang menentukan arah kebijakan pembangunan sedangkan objek pembangunan tersebut ditujukan untuk rakyat yang melakukan proses pembangunan sejak dari perencanaan, pelaksanaan, memonitor dan evaluasi. Hal ini akan menjadi konsep belaka jika manusia sebagai subjek pembangunan dituntut untuk melakukan pembangunan dijadikan kewajiban yang harus dikerjakan dan sebagai objek pembangunan manusia diharapkan dapat menerima pembangunan sebagai pemberian upah dari tanggung jawab atas kewajibannya yang penuh dengan ketentuan yang ditetapkan. Pernyataan ini mengambarkan pembangunan terkesan penuh dengan niali-nilai otoriter dari pemerintah yang memaksa untuk harus dilakukan tanpa diberi pilihan untuk melihat masalah, menemukan kebutuhan, memecahkan, melaksanakan, menikmati hasil dan pelestariannya. Secara sederhana partisipasi adalah pelibatan masyarakat dalam pembangunan dan solusi terhadap pernyataan yang disebutkan tadi yaitu tidak mungkin masalah selesaikan masalah. Jelaslah hal ini terjadi kerena partisipasi adalah kerjasama antara rakyat dan pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan. Karena model pembangunan yang otoriter dari pemerintah akan berubah menjadi model pembangunan sebagai usaha untuk mensistemisasi aspirasi pembangunan yang ada dalam masyarakat dan menyusunnya dalam dokumen tertulis. Dengan model ini masyarakat sebagai suatu turbulent penuh dengan nilai – nilai sosial budaya yang dinamis. Dengan kata lain masyarakat merupakan suatu sistem yang mandiri, maka perencanaan bukan bertujuan memanipulasi sistem menjadi sub sistem yang tergantung pada supra sistem. Model ini tidak otoriter atau anti demokrasi.

Isu-isu strategis yang menyimpang dari harapan dan cita-cita pembangunan ini memberikan cakrawala baru bagi pelopor, pelaku dan pelaksana pembangunan agar sejenak bersama – sama berpikir untuk mempertimbangkan istilah partisipasi dipakai untuk menghubungkan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.

Keberhasilan pembangunan tidak terlepas dari potensi dan kualitas sumber daya lokal terutama sumber daya manusia. Dalam hal ini memanfaatkan tenaga kerja lokal dan sumber daya lokal yang dipersiapkan dalam proses persiapan masyarakat dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Karena prinsip partisipasi masyarakat sala satunya adalah pemberdayaan ( kapasitas lokal sebagai kekuatan pembangunan ). Prosesnya meliputi masyarakat diajak untuk mengidentifikasi kebutuhan mengorganisir masalah, perencanaan dan memonitor dan mengevaluasi hasil – hasil pembanguanan melalui kegiatan kajian – kajian bersama masyarakat. Dengan demikian masyarakat mampu menghadapi perubahan yang kemungkinan terjadi karena mental masyarakat telah dilatih, masyarakat siap dengan sumber daya lokal yang memadai.

Kondisi diatas kemudian akan mengurangi mental masyarakat yang tergiur dan terpesona dengan hasutan pembangunan yang berorientasi proyek yang telah membentuk mental masyarakat Papua dan pada umumnya di Indonesia. Hal ini nampak dari masa pemerintahan orde lama, orde baru bahkan masa reformasipun secara khusus dapat terlihat di masyarakat Papua yang sebagian besar masyarakat masi berada pada tingkatan pemikiran theologis yang berkembang pada awal tahun 1940-an dengan gerakan – gerakan yang memberikan harapan bahwa akan ada masa bahagia oleh kembali tokoh arwah gerakan tersebut diantaranya adalah gerakan koreri Cargo dan lain – lain. Kemudian pada tahun 1961 setelah integrasi Irian Jaya ke Indonesia masih membekas dalam hati adanya kesenjangan antara pendatang dan pribumi. Pribumi dianggap primitif ( Koedj. 367). Hingga dalam proses pembangunan dianaktirikan dari tiap tahapan pembangunan. Karena keterlambatan pembangunan yang menggugah pemerintah pusat dengan gerakan merdeka kemudian keluarlah UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus namun dalam pelaksanaanpun masih bermasalah kemiskinan strukturalpun mulai menjamur di lapisan masyarakat bawah. Otonomi Khusus belum menjawab persoalan dan menjadi solusi bagi masalah di Papua masyarakat perkampungan masih terisolasi masyarakat perkotaan terasingkan oleh akibat pembangunan Otonomi Khusus yang beraroma uang. Kenyataan ini membuktikan uang banyak yang diluncurkan kemasyarakat tetapi habis ditengah jalan menuju kampung. Ampasnya turun ke kampung tetapi masyarakat belum siap untuk menerima uang otonomi khusus tersebut terkesan dari tahun di berlakukan UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus di tanah ini masyarakat dimanjakan dengan pemberian uang dari orang lain bukan uang hasil kerja sendiri. Puncak dari model pembangunan top down adalah ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dengan mengharapkan bantuan. Masyarakat akan terlibat kalau ada bantuan tanpa persiapan dalam tahap pembangunan.

Ada hal yang luar biasa dari bantuan pemerintah selama ini, ternyata masyarakat tergantung bukan mandiri. Hal ini juga yang nampak dari wajah masyarakat di kampung – kampung daerah pedalaman yang belum terjangkau informasi pembangunan dan tidak ada kebebasan untuk memberi masukan serta mengawasi hasil pembangunan walau sesungguhnya itu adalah hak masyarakat. Ada apa dengan masyarakat yang tidak mau berpartisipasi dalam pembangunan. Siapa yang salah atau ada yang keliru karena belum paham dari ulah pihak yang mempunyai status sosial, ekonomi, politik dan pendidikan yang lebih atas ( Upper Class) hal ini menunjukan masalah disebabkan karena struktural. Hal ini dapat disebut sebagai sumber masalah pembangunan karena seharusnya proses pembangunan memberi solusi kepada masalah, tetapi solusi tersebut menjadi masalah. Tidak mungkin masalah menyelesaikan masalah.

Kenyataan ini bukan suatu gejalah awal dari masalah juga bukan masalah itu sendiri tetapi ini merupakan sistem masalah yang merupakan hubungan sebab akibat dari suatu deretan panjang dari suatu ulah. Tumpukan berbagai masalah telah menyembuyikan akar masalah yang sesungguhnya. Ada berbagai penyebab yang masih belum berhasil dikaji lebih dalam oleh lembaga – lembaga mempengaruhi kebijakan pembangunan di tanah ini.

Deskripsi singkat ini menantang kita berpikir kondisi pembangunan dengan tingkatan partisipasi di era otonomi khusus dan bagaimana yang seharusnya terjadi. Saya sebagai kaum intelektual turut prihatin dengan kondisi ini.

1. Ilmu yang menjadi solusi harus berada di masalah

Tumpukan masalah yang telah menjamur tersebut tidak dapat dilakukan hanya oleh lembaga pengambil kebijakan melainkan karena suatu sistem masalah harus di lakukan secara sistem yang tertata dari hasil kolaborasi kekuatan. Pembangunan harus didahului dengan kajian yang mendalam dan merupakan tindak lajut suatu proses sebelumnya. Kajian sebagai bahan dasar evaluasi dan kemudian dipakai sebagai data sebelum pengambilan keputusan pembanguan. Masalah sosial tidak sekedar mengamati secara tidak langsung lalu diperkirakan penanganan masalahnya. Masalah sosial ditangani tanpa penelitian berarti menunjukan masalah itu sendiri. Pelibatan lembaga independent seperti LSM yang berkompeten ataupun Lembaga Perguruan Tinggi dalam pembangunan sangat diperlukan untuk meneliti dan memberikan interpretasi masalah pembangunan guna perencanan pembangunan. Inilah yang saya maksudkan sebagai kolaburasi kekuatan. Lembaga non pemerintah yang mengadakan kajian terhadap hasil pembangunan ada baiknya karena pertama mengurangi manipulasi kebenaran. Kedua teridentifikasi seluruh kelemahan dan menemukan akar masalahnya tanpa disembunyikan. Ketiga memberikan hasil yang optimal karena, berkompeten, detail dan fokus dengan kajian. Semua usaha pengkajian dimaksudkan agar solusi harus berada di masalah dan menjadi jembatan penhubung antara selisi dan harapan. Maksud saya ilmu harus berada di dalam masalah untuk mengurangi dan mebatasi penyebaran masalah tersebut ke segala lini yang akan menimbulkan anak masalah baru.

Pada level akar rumput masyarakatlah yang hendaknya memainkan peranan sebagai pelaksana dan pengontrol hasil pembangunan. Dengan demikian kemampuan manajerial masyarakat suda saatnya diperhatikan sebagai bagian dari peningkatan kapasitas masyarakat untuk belajar ( mengkaji ) dengan melihat masalah, menemukan kebutuhan lalu meberikan aspirasi ke lembaga terkait.

2. Kembalikan Kekuasaan Masyarakat

Modal masyarakat yang terbentuk akibat interaksi adalah hubungan yang harmonis antara sesama anggota kelompok. Hubungan ini kemudian melahirkan tingkat kesolidaritas antara kelompok yang organik ataupun mekanis. Nilai budayapun mulai muncul ketika interaksi tersebut dari hari ke hari terus dilakukan dan kemudian melahirkan kesepakatan- kesepakatan yang menghasilkan perubahan. Sesungghnya inilah kekuatan masyarakat ketika masyarakat telah melahirkan nilai dan norma dari dalam jangka waktu yang lama dan norma masyarakat tersebut dilakukan. Pekerjaan yang dilakukan atas dasar nilai dan norma pengaruhnya lebih besar karena masyarakat melaksanakan apa yang telah disepakati bersama. Jika dihubungkan dengan kemungkinan hasil yang akan dicapai dari pekerjaan tersebut, akan lebih berhasil dibanding dengan kegiatan yang dilakukan atas inisiatif orang lain. Nilai yang biasanya disuarakan oleh berbagai media pada orde lama tentang yang adalah budaya Indonesia adalah gotong – royong bekerja ( bahu – membahu). Gotong royong ini merupakan suatu nilai budaya hasil dari warisan interaksi leluhur. Wariasan ini yang sering dipuji sebagai kekuatan masyarakat yang merupakan faktor utama keberhasilan pembangunan. Bersama dengan waktu dan dampak adanya arus modernisaisi nilai ini semakin merosot. Saya sempat berpikir tentang hal ini ternyata ada beberapa hal yang mempengaruhi merosotnya nilai ini selain pengaruh modernisasi adalah karena traumatis terhadap perlakuan pemerintah. Tidak menepati tiap janji yang pernah di berikan, perlakuan para pemimpin dan wakil rakyat yang amoral, anomi semakin menjamur di tanah ini seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Nilai budaya yang selama ini adalah dambaan masyarakat menjadi ternoda. Wakil rayat dan pemimpin masyarakat adalah akumulasi representative dari masyarakat tersebut yang diharapkan dapat mewarisi nilai dan norma masyarakat namun sayang kepercayaan masyarakat terhadap merekapun berkurang bahkan ada yang suda menghilang. Rasa memiliki wakil rakyat dan pemimpin mereka tidak terjadi. Program pembangunan dari, oleh dan untuk masyarakat seakan tidak berarti bagi masyarakat karena pemimpinnya tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Program pembangunan menjadi hampa tanpa masyarakat. Masyarakat mulai apatis terhadap program yang diberikan pemerintah karena mereka tidak berpikir dan merasa memilki program pemerintah. Itukan program pemerintah biarkan pemerintah sendiri melakukannya !. kondisi ini tidak hanya berlaku di tingkat atas namun pemerintahan paling bawahpun seperti pemerintah kampung mengalami kondisi yang sama.

Kekuasaan masyarakat terkuras habis - habisan karena kondisi ini masyarakat yang lemah makin melemah lalu timbulah kelompok masyarakat lemah yang mengasingkan diri dari pembangunan, kelompok masyarakat menengah berpikir lebi baik kita bisa makan dan minum dengan usaha kita saja ! untuk apa kita ikut program pemerintah ! paling kita nanti dapat ampas dari serbuk kayu yang tersisah setelah diskap oleh pemerintah dan mengambil hasil skapan tersebut ! mari kita kerja untuk memberi makan leluarga kita seklipun hanya untuk makan di hari ini. Sudalah jika mereka masi rasa memiliki kita mungkin akan memberkan kami uang ! Kelompok kelas atas di kampung makin jadi – jadian dengan penguasaan atas segala asset masyakrat meliputi aspirasi, hak berbicara, mengeluarkan pendapat, bahkan terlibat langsung dalam tiap kegiatan. Kekuasaan masyarakat terkuras habis tidak ada yang tersisah. Dominasi dalam pelaksanaan pembangunan adalah kelompok kelas atas yang berkuasa. Kesenjangan antara tiap kelompok mulai terbentuk khususnya kelas atas dan kelas bawah.

Solidaritas masyarakat hancur lulu yang ada kelas – kelas sosial yang tidak saling di berdayakan akirnya menimbulkan kemiskinan karena strukturalisme. Tinggalah kelompok – kelompok kepentingan di masyarakat ( interest group ) dengan berbagai kepentingan masing – masing tanpa berpikir kepentingan kolektivitas masyarakat. Sering disebut sebagai disfungsi sosial. Tiap aspek pembangunan tidak berfungsi yang seharusnya dilakukan oleh institusi dari subsistem tidak berjalan normal. Tiap subsistem yang seharusnya berjalan seperti pelestarian nilai – nilai masyarkat, menjunjung tinggi hukum dan keadilan, peningkatan kemampuan masyarakat untuk mempertahankan hidup dalam hal roda perekonomian, lumpuh nilai etika dan moral.

Akibat dari kondisi ini partisipasi masyarakat berkuang program yang barnuansa proyek makin jadi – jadian oleh kaum kapitalis. Mereka mulai berpikir agar program bisa terlaksana mari kita berikan uang ke masyarakat karena pasti mereka sedang berharap, mari kita kasi uang. Hujan uangpun mulai berjatuhan yang menjadi dasar dalam tiap pelaksanaan program pembangunan tanpa malihat apa masalah yang sedang mereka alami dan apa aspirasi masyarakat. Strukturalisme pembangunan seperti inilah yang membuat bantuan yang turun ke kampung dari atas tekuras habis pada tiap level hingga yang paling terakhir mendapat ampas dari yang tersisa.

Papua baru mulai mencuak ke permukaan dengan munculnya seorang figur Papua yang menyuarakan Papua baru mengajak masyarakat memimpikan harapan itu. Usahanya mulai dilakukan dengan model pembangunan yang dimulai dari kampung. Pembaca akan berpikir bahwa yang saya maksudkan itu adalah Program Kak Bas Pulang kampung. Bukan hanya sekedar janji untuk pulang ke kampung tetapi sekarang kak Bas suda tiba di kampung dengan bawa uang seratus juta rupiah dan memberikan kepada masyarakat untuk masyarakat atur program sesuai dengan kebutuhan mereka.

Jika diminta siapa saja pendukung program ini, maka sayalah orang pertama yang menyetujui model pembangunan ini, tetapi sesuai dengan partisipasi masyarakt dalam pembangunan di Papua, ada beberapa pemikiran untuk menjadi bahan pertimbangan saya untuk terus menyetujui program tersebut. Masalah yang melilit Papua ini bukan sekedar masalah tetapi lingkaran dari berbagai masalah. Tidak hanya dapat diselesaikan dengan uang tetapi butuh pemikiran, pertimbangan dan kebijakan yang benar – benar menjawab perosalan dan memberikan solusi terhadap masalah. Selain kebijakan yang benar – benar memperhatikan kondisi masyarakat juga dibutuhkan kecakapan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan agar kelompok - kelompok masyarakat yang tersisih karena pembangunan dapat menyatu kembali. Hal ini dapat dilakukan dengan usaha – usaha peningkatan kesadaran melalui berbagai pelatihan – pelatihan di tiap organisasi / intansi yang belum berfungsi optimal. Diantaranya adalah perlu adanya pelatihan khusus peningkatan kapasitas pegawai dalam pelaksanaan program berasaskan peningkatan kesadaran masyarakat dan kapasitas masyarakat guna pemberdayaan masyarakat, perlu adanya singkronisasi program dari tiap intansi pemerintah. Akhir dari rumusan - rumusan singkronisasi tersebut kemudian menjadi acuan dalam perencanaan daerah. Jangan kejar target tanpa perhatikan proses. Pada level distrik, aparat pemerintah yang mempunyai kepentingan dengan usaha mengembalikan kekuasaan masyarakat dilatih untuk peningkatan kapasitasnya untuk diataranya seksi pemberdayaan, pemerintahan bila perlu kepala distrik diberi pelatihan khusus untuk memahami program dan pentingnya program yang harus dilakukan dengan peningkatan kapasitas masyarakat sebelum memberikan bantuan pemerintah. Aparat kampung juga diberi pelatihan untuk berfungsi sesuai tugas fungsinya. Pelatihan di kampung ini dalam bentuk peningkatan kemampuan manajerial aparat dan peningkatan kesadaran untuk mengerti pembangunan dari, oleh dan untuk masyarakat. Gereja jangan dianggap sebagai orang – orang surga. Jadi kita mejauhkan mereka dari dunia untuk buta terhadap urusan pembangunan. Untuk itu pengembangan pelayanan gereja suda harus diperhatikan karena organisasi yang aktif di masyarakat adalah kegiatan keagaam dan organisasi inilah yang masi dipercayai oleh masyarakat. Gereja diberdayakan bukan hanya untuk mengurus pelayanan rohani saja tetapi juga kesejahteraan fisik ( kesehatan ) dan psikis yaitu menyembuhkan traumatis masyarakat akibat ulah pemerintah terdahulu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar peduli dengan pembangunan.

Siapa yang dapat melakukannya apakah pelaksana program fungsional atau struktural ? Apakah perlu adanya singkronisasi program di tiap instansi atau tidak perlu, yang penting adanya sikap ego sektoral ? Apakah perlu tiap instansi memikirkan model pembangunan yang memperhatikan prinsip - prinsip partisipas dalam tiap programnya ?

Masyarakat Papua bukan Terasing, Terbelakang, Tertinggal, Terlambat, Terbodok tetapi sesungguhnya karena diperlambat memperoleh kesempatan akses pembangunan.


















































































































































































































































































Kisah Hidup

MEMORI PERJALANAN 26-27 MARET 2008


Ketika rencana keberangkatan ke Enarotali - Sugapa telah direncanakan dari Jayapura. Kesulitanpun datang dengan tipe yang berbeda. Kesulitan kali ini dengan uang transportasi yang dipake untuk membeli leptop. Ketika tiba di Nabire seusai ibadah paska hendak berangkat namun perjalanan kali ini di tunda dari tanggal 25 ke tgl 26.

Perjalan saya mulai berlangsung bersama Estrada dari Kali bobo- Nabire menuju Enarotali. Diperkirakan berangkat jam 19.00 dari Nabire. Perjlanan yang diharapkan mulus berubah manjadi kenyataan yang menjengkelkan. Bermalam di dalam Mobil lalu dikagetkan denga pagi hari yang memacetkan perjalanan. Tibalah kita di tempat yang namanya Tanah hitam kira- kira 165 Km dari Nabire. Antrian panjang bersusun di depan pandangan mata kani. Hari pagi itu seakan - akan berubah manjadi siang hari dibawah terik matahari. Sial apa ? jalan macet.

Dari pagi jam 3 usaha dilakukan untuk melancarkan lalulintas tapi aga dayanya cuaca hujan tambah mempersulit perjalanan. Tetap tidak mengalami perubahan posisi antrian truk yang tertahan, hingga jam 11.30 Wit. Ada satu truk yang berhasil ditarik. Dari sekitar 30 truk yang berbaris menunggu giliran ditarik keluar dari lumbangan Lumpur tanahhitam.

Keputusanku harus jalan kaki hingga Enaro pada pukul 11.30 karena harus mengikuti pertemuan besok hari. Cape deh, perjalanan yang panjang lalu harus terpaksajalan kaki, setelah sekitar 20 tahun lamamnya tidak jalan kaki harus jalan kaki dengan jarak yang cujup jauh dan bergunung –gunung.

Hujanpun tiba saya harus berteduh di tenda sekolahan SD Negeri Gokuyo. Menyedihkan perjalanan rusak, sekolah yang saya dapati pun turut menyempurnakan kesedihan perjalanan saya karena bangunannya terbuat dari kayu buah baik itu dinding dan rangkanya serta tempat duduknya juga terbuat dari kayu buah ditambah dengan lantai yang berlumpur serta atap terpal biru seakan – akan mengingatkan saya pada terpal biru yang dipakaiuntuk perkemahan dulu. Saya mau salahkan siapa dengan melihat kondisi jalan yang rusak ? dan siapa yang harus dipersalahkan dengan kondisi bangunan sekolah yang tidak memenuhi standar bangunan sekolah ? apa suda tidak ada kekuatan yang berkuasa di tanah ini ? Jika saya punya wewenang untuk menyelahkan pasti saya akan menyelahkan semua untuk semua.

Sekitar pukul 18.00 berteduh dan sekitar 19.00 hujan telah teduh saya harus berjalan dengan hari yang semakin malam dan gelap. Saya harusmenggunakan perasaan pasrah saya kepada perjalanan saya dan hanya berharap pada Tuhan.

Dengan bermodalkan kaki kosong senter 3 wat saya harus berjalan melintasi malam gelap. Setelah melewati Bomomani karena cape dan harus berusaha untuk mencari tempat persinggahan untuk beristirahat. Tidak kudapati tempat beristirahat hanya hutan belantara yang tampak di malam kelam itu. Sekitar 20 Km seharian saya berjalan kaki. Kemudian setelah berjalan melewati hitan belantara tersebut trlihat ada sebuah mobil Estrada yang parkir di pinggiran jalan malam itu sekita pukul 20.00 saya membuka pintunya terbukalah pintu itu dan terpikirkan dalam pemikiran saya saya harus berbaring di dalam Mobil. Keadaan yang tidak pernah saya berpikir selama hidup tidur di jalan saat itu saya harus tidur di pertengahan perjalanan dalam sebuah mobil di tengah hutan belantara Mapia. Ucapan Syukur menghentar saya dalam tidurku. Setelah tutup mata dan buka mata hari telah pagi.

Pujian kepada Tuhan mengawali perjalanan saya hari itu. perjalanan

Memori 19 April 2008


PUTARAN JARUM PENUNJUK JAM JATUH

PADA TITIK MASALAH KU

Masalah kadang membuat segalahnya tidak berarti

Ketika ia menunjukan wujutnya dan melingkar diri

Bisanya seakan harapan itu terhalang

Yang ada hanyalah stres yang kemudian memuncak pada depresi.

Tingkatan konflik batin menghalangi alur berpikir sehat

Berakibat pada adanya perasaan pesimis

Harapan seakan menghilang dari daya mimpiku.

Kegelapan menghalangi munculnya fajar di hari esok.

Ketika berharap pada kelembutan Ilahi yang bergerak mengikuti detak jantung

Harapan itu muncul

Sebenarnya kuasa kelembutan itu berkuasa atas segala emosi,

ia bekerja tidak secara emosional.

Namun dari sanubari yang menetralkan emosi dan memberikan damai dalam hati.

Tetesan air mata yang mengeluarkan beban emosi

Masalah itu kemudian memberikan secerah harapan

Karena air mata itu benar - benar menyucikan.

Duka itu menimbulkan suka ria.

Benar semua jadi saksi kekuasaanNya yang lembut penuh dengan seni

Tampak ada danau di depan ku

Gunung – gunung menjadi pelindungnya bagaikan pagar yangmelingkari danau dan tanjung bobaigo menjadi penyempurna keindahan danau itu.

Matahari siang menjadi saksi harian itu.

Hari itu terindah, dimana Tuhan menyinariku dengan cahayaNya

Dari puncak Bobaigo terlihat sinar yang merubah

Yang menyentuh Pusat kehidupanku.

Pulihlah terasa dalam diri

Ada yang lain

Muntahlah keluar kepahitan itu,

Keluarlah suda keringat yang menghambat masuknya angin segar dalam tubuh. Penyesalan melahirkan harapan baru.

Hari esok muncul dalam genggaman tanganku.

Dan menjadi miliku ikatan kegelapan terlepas dari tubuhku

Sungguh inikah yang namanya pemulihan ?

Amin ! Puji Tuhan

Tampaknya kejadian hari itu menjadi memori yang tak terlupakan

By Amoy