MEMORI PERJALANAN 26-27 MARET 2008
Ketika rencana keberangkatan ke Enarotali - Sugapa telah direncanakan dari Jayapura. Kesulitanpun datang dengan tipe yang berbeda. Kesulitan kali ini dengan uang transportasi yang dipake untuk membeli leptop. Ketika tiba di Nabire seusai ibadah paska hendak berangkat namun perjalanan kali ini di tunda dari tanggal 25 ke tgl 26.
Perjalan saya mulai berlangsung bersama Estrada dari Kali bobo- Nabire menuju Enarotali. Diperkirakan berangkat jam 19.00 dari Nabire. Perjlanan yang diharapkan mulus berubah manjadi kenyataan yang menjengkelkan. Bermalam di dalam Mobil lalu dikagetkan denga pagi hari yang memacetkan perjalanan. Tibalah kita di tempat yang namanya Tanah hitam kira- kira 165 Km dari Nabire. Antrian panjang bersusun di depan pandangan mata kani. Hari pagi itu seakan - akan berubah manjadi siang hari dibawah terik matahari. Sial apa ? jalan macet.
Dari pagi jam 3 usaha dilakukan untuk melancarkan lalulintas tapi aga dayanya cuaca hujan tambah mempersulit perjalanan. Tetap tidak mengalami perubahan posisi antrian truk yang tertahan, hingga jam 11.30 Wit.
Keputusanku harus jalan kaki hingga Enaro pada pukul 11.30 karena harus mengikuti pertemuan besok hari.
Hujanpun tiba saya harus berteduh di tenda sekolahan SD Negeri Gokuyo. Menyedihkan perjalanan rusak, sekolah yang saya dapati pun turut menyempurnakan kesedihan perjalanan saya karena bangunannya terbuat dari kayu buah baik itu dinding dan rangkanya serta tempat duduknya juga terbuat dari kayu buah ditambah dengan lantai yang berlumpur serta atap terpal biru seakan – akan mengingatkan saya pada terpal biru yang dipakaiuntuk perkemahan dulu. Saya mau salahkan siapa dengan melihat kondisi jalan yang rusak ? dan siapa yang harus dipersalahkan dengan kondisi bangunan sekolah yang tidak memenuhi standar bangunan sekolah ? apa suda tidak ada kekuatan yang berkuasa di tanah ini ? Jika saya punya wewenang untuk menyelahkan pasti saya akan menyelahkan semua untuk semua.
Sekitar pukul 18.00 berteduh dan sekitar 19.00 hujan telah teduh saya harus berjalan dengan hari yang semakin malam dan gelap. Saya harusmenggunakan perasaan pasrah saya kepada perjalanan saya dan hanya berharap pada Tuhan.
Dengan bermodalkan kaki kosong senter 3 wat saya harus berjalan melintasi malam gelap. Setelah melewati Bomomani karena cape dan harus berusaha untuk mencari tempat persinggahan untuk beristirahat. Tidak kudapati tempat beristirahat hanya hutan belantara yang tampak di malam kelam itu. Sekitar 20 Km seharian saya berjalan kaki. Kemudian setelah berjalan melewati hitan belantara tersebut trlihat ada sebuah mobil Estrada yang parkir di pinggiran jalan malam itu sekita pukul 20.00 saya membuka pintunya terbukalah pintu itu dan terpikirkan dalam pemikiran saya saya harus berbaring di dalam Mobil. Keadaan yang tidak pernah saya berpikir selama hidup tidur di jalan saat itu saya harus tidur di pertengahan perjalanan dalam sebuah mobil di tengah hutan belantara Mapia. Ucapan Syukur menghentar saya dalam tidurku. Setelah tutup mata dan buka mata hari telah pagi.
Pujian kepada Tuhan mengawali perjalanan saya hari itu. perjalanan
Memori 19 April 2008
PUTARAN JARUM PENUNJUK JAM JATUH
PADA TITIK MASALAH KU
Masalah kadang membuat segalahnya tidak berarti
Ketika ia menunjukan wujutnya dan melingkar diri
Bisanya seakan harapan itu terhalang
Yang ada hanyalah stres yang kemudian memuncak pada depresi.
Tingkatan konflik batin menghalangi alur berpikir sehat
Berakibat pada adanya perasaan pesimis
Harapan seakan menghilang dari daya mimpiku.
Kegelapan menghalangi munculnya fajar di hari esok.
Ketika berharap pada kelembutan Ilahi yang bergerak mengikuti detak jantung
Harapan itu muncul
Sebenarnya kuasa kelembutan itu berkuasa atas segala emosi,
ia bekerja tidak secara emosional.
Namun dari sanubari yang menetralkan emosi dan memberikan damai dalam hati.
Tetesan air mata yang mengeluarkan beban emosi
Masalah itu kemudian memberikan secerah harapan
Karena air mata itu benar - benar menyucikan.
Duka itu menimbulkan suka ria.
Benar semua jadi saksi kekuasaanNya yang lembut penuh dengan seni
Tampak ada danau di depan ku
Gunung – gunung menjadi pelindungnya bagaikan pagar yangmelingkari danau dan tanjung bobaigo menjadi penyempurna keindahan danau itu.
Matahari siang menjadi saksi harian itu.
Hari itu terindah, dimana Tuhan menyinariku dengan cahayaNya
Dari puncak Bobaigo terlihat sinar yang merubah
Yang menyentuh Pusat kehidupanku.
Pulihlah terasa dalam diri
Muntahlah keluar kepahitan itu,
Keluarlah suda keringat yang menghambat masuknya angin segar dalam tubuh. Penyesalan melahirkan harapan baru.
Hari esok muncul dalam genggaman tanganku.
Dan menjadi miliku ikatan kegelapan terlepas dari tubuhku
Sungguh inikah yang namanya pemulihan ?
Amin ! Puji Tuhan
Tampaknya kejadian hari itu menjadi memori yang tak terlupakan
By